BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian
Dari segi bahasa al-qashash berupa bentuk jamak dai kata qishash, yang berarti mengikuti jejak atau menelusuri bekas, atau cerita/kisah.
Dari segi istilah, kisah berarti berita-berita mengenai suatu permasalahan dalam masa-masa yang saling berurut-urut. Qashash Al-Qur’an adalah pemberitaan mengenai ihwal ummat yang telah lalu, nubuwwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.) (Abdul Jalal, 2000)
Al-Qur’an telah menyebutkan kata qashas dalam beberapa konteks, pemakaian, dan
tashrif (konjungsi) nya: dalam bentuk fi’il madhi, fi’il mudhori’, fi’il amr, dan dalam bentuk mashdar . Menurut bahasa, kata qashash berarti kisah, cerita, berita atau keadaan. kisah sendiri berasal dari kata al-qassu yang berarti mencari atau mengikuti jejak. Sependapat dengan al-Qattan, Imam ar-Raghib al-Isfahani dalam kitab al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an juga mengartikan kata “Qashashtu atsarahu” sebagai “Saya mengikuti jejaknya”.
Hasbi Ash Shiddieqy menyatakan bahwa pengertian dari qashash adalah mencari bekasan atau mengikuti bekasan (jejak). Lebih lanjut, beliau juga menerangkan bahwa Lafadz qashash adalah bentuk mashdar yang berarti mencari bekasan atau jejak , dengan memperhatikan ayat-ayat berikut ini: (Hasbi Ash Shiddieqy, 1972)
Ayat 64 surah al-Kahf:
فارتد على أثارهما قصصا (الكهف:64)
Artinya: “Lalu keduanya mengikuti kembali jejak mereka sendiri”
Dalam ayat ini qhashas berarti mengikuti jejak yang sama dengan menelusuri bekas.
Ayat 11 surah al-Qhashash:
وقالت لأخته قُصِّيهِ (القصص:11)
Artinya: “Dan berkatalah Ibu Musa kepada saudari Musa :”Ikutilah Dia”
Ayat 62 surah Ali Imran:
إن هذا لهو القصص الحق (أل عمران: 62)
Artinya: “Sesungguhnya ini adalah cerita yang benar”
Jadi bisa disimpulkan, Qashashul Al-Qur’an ialah kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang menceritakan hal ihwal umat-umat dahulu dan nabi-nabi mereka serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Di dalam Al-Qur’an banyak diceritakan umat-umat dahulu dan sejarah Nabi/ para Rasul serta ihwal negara dan perilaku bangsa-bangsa kaum dahulu. (Shouwi, 1995)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar