3. Dilihat dari jenisnya
Dilihat dari jenisnya Kisah-kisah dalam al-Quran di bagi menjadi tiga macam,yaitu:
a. Kisah Sejarah (al-qishash al-tarikhiyyah), berkisar tentang kisah-kisah sejarah, seperti para nabi dan rasul.
b. Kisah sejarah/ perumpamaan (al-qishash al-tamtlisiyah), untuk menerangkan atau memperjelas suatu pengertian, bahwa peristiwa itu tidak benar terjadi tetapi hanya perkiraan.
c. Kisah asatir, kisah ini untuk mewujudkan tujuan-tujuan ilmiah atau menafsirkan, fenomena yang ada atau menguraikan masalah yang sulit diterima akal.
Kisah-kisah al-Qur’an pada umumnya mengandung tiga unsur yaitu:
1) Pelaku (al-sakhsiyyat), kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an tidaklah hanya manusia. Dalam Q.S An-Naml (27): 23, tetapi juga ada malaikat, dalam Q.S Hud (11): 69-83, Jin dalam Q.S Saba’ (34):12, dan binatang (burung, semut, dll), dalam Q.S An-Naml (27): 18-19.
2) Peristiwa (ahdats), hal ini terbagi menjadi: peristiwa yang berkelanjutan, peristiwa yang dianggap luar biasa dalam Q.S Al-Mai’dah (5): 110-115, dan peristiwa yang dianggap biasa dalam Q.S Al-Mai’dah (5):116-118.
3) Dialog (alhiwar), dalam QS Al-A’raf (7):11-25, Taha (20): 9-99
Contoh kisah Dzulkarnain
Dzulkarnain adalah seorang laki-laki yang dilahirkan pada zaman dahulu kala, ia masuk Islam melalui nabi Ibrahim dan berthawaf mengelilingi Ka’bah bersamanya,sehingga akhirnya ia kembali ke negerinya. Dzulkarnain menyiapkan pasukan untuk menyeru manusia kepada Allah, yang langsung dipimpinnya. Beliau telah mempelajari seluruh bahasa penduduk bumi,sehingga ia dapat bercakap-cakap dengan semua bangsa melalui bahasa masing-masing. Ia juga mengetahui semua rute perjalanan, dan itu diketahuinya berkat hidayah Allah yang diberikan kepadanya. Dzulkarnain sampai di belahan barat bumi, tempat matahari terbenam. Ia kemudian melihat matahari itu seolah-olah terbenam di mata air berlumpur (ainulhami’ah), ia melihatnya tenggelam dalam tanah yang hitam. Matahari itu kemudian tenggelam di Uqyanus.
Allah memberikan pilihan kepada Dzulkarnain antara menyiksa penduduk tanah itu atau berlaku adil kepada mereka , sebab mereka orang-orang yang kafir. Hingga dia telah sampai di tempat matahari terbenam, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan disana ditemukannya suatu kaum(tidak beragama). Kami berfirman: Wahai Dzulkarnain! Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan (mengajak beriman) kepada mereka.´ ( Q.S Al-Kahfi: 86). Dua belas tahun lamanya perjalanan ini, sehingga Dzulkarnain sampai di tempat terbit matahari (sebelah timur) didapatinya (matahari) bersinar diatas suatu kaum yang tidak kami buatkan suatu perlindungan bagi mereka dari (cahaya matahari) itu. (Q.S Al-Kahfi: 90). Kemudian mereka menempuh perjalanan lagi sampai mereka bertemu dengan makhluk Alah yang bernama Ya’juj ma’jud. Mereka mempunyai bentuk, ukuran dan fisik yang membuat manusia terkejut dan heran bila melihatnya. Mereka adalahorang-orang kafir yang tidak beriman kepada Allah, suka merampok, dan malas bekerja serta suka menganggu dan merugikan manusia yang ada di dekatnya. Dzulkarnain meminta pertolongan kepada Allah, kemudian meminta pertolongan kepada manusia dan mulailah mereka membangun dinding diantara kedua gunung tersebut dengan sangat kokoh dan kuat, sehingga tidak akan ada seorang pun yang dapat menghancurkannya, bahkan ya’juj ma’jud sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar